Senin, 10 Juli 2017

Terbang Bebas

Terbang Bebas

Siang ini Aku bersiap untuk terbang

Kumegarkan sayap sayapKu

Kukibaskan sayap sayapKu untuk terbang

Aku terbang mengarungi langit.

Kulihat hamparan awan seoalah olah menari ditemani cahaya mentari

Kurasakan terpaan angin yang menghantam raga ini sungguh nyaman untuk dinikmati

Kunikmati kicauan burung yang menyapaKu di langit

Tak ingin Kumendarat,

Aku ingin terbang dan terus terbang

Menembus batas langit

Tanpa halangan dan rintangan

Takan ada yang akan menggangguKu

Selamat tinggal daratan

Selamat tinggal lautan

Langit telah menyambutku

Dan langit akan menjadi rumahKu

Aku hidup untuk terbang bebas


Batam, 10 Juli 2017


Kak Ngun

Minggu, 21 Mei 2017

Khawatir


Khawatir


Aku tahu tak mudah menjaga suatu perasaan,

Aku tahu dirimu khawatir, apalagi dengan jarak yang memisahkan kita.

Tak heran jika dirimu menanyakan sesuatu mengenai “menjaga perasaan”

Tak heran jika dirimu cemburu kepadaku,

Aku akui begitu banyak godaan yang datang,

Aku akui cukup berat menjaga suatu perasaan ini,

Aku ingin Engkau tahu, bahwa Aku merasakan yang sama, namun Aku tetap yakin dan percaya kepadamu,

“Apakah engkau juga menjaga perasaan ini sebagaimana Aku menjaganya?” tanpa Aku sadari pertanyaan itu muncul begitu saja,

Namun Aku sadar belum saatnya Aku mendengar jawaban atas pertanyaan tersebut, Aku lebih memilih menyibukan diri hingga Aku lupa dengan pertanyaan itu,

Namun layaknya boomerang pertanyaan itu datang kembali, sejauh apapun Aku melemparnya pertanyaan itu selalu datang kembali,

Hingga suatu malam dirimu yang menanyakan hal itu langsung kepadaku,

Jujur Aku sangat gembira engkau menanyakannya padaku, kuutarakan semuanya kepadamu tanpa ada yang kusembunyikan lagi,

Dan satu hal yang Aku pahami, di malam itu kita mengkhawatirkan hal yang sama,

Kita sama sama tahu bahwa Allah Swt. tahu apa yang terbaik untuk Kita,

Yang bisa Kita lakukakan hanyalah berusaha menjaga, terus berharap, dan menjaga kemurniaannya didalam doa.


Pekanbaru, 21 Mei 2017

Kak Ngun

Selasa, 09 Mei 2017

Tanpa Arah


Tanpa Arah

Terkadang Ku tak sadar,

terus berjalan tanpa henti,

terus dan terus berjalan tanpa arah,

Ku tak sadar,

entah apa yang Ku cari,

semua orang menjauh,

semua orang menjaga jarak dengan Ku,

entah apa yang salah dengan Ku,

Aku hanya terus berjalan tanpa arah,

berjalan dengan prinsip yang tidak jelas,

Aku merasa tersisih di tengah keramaian,

semua orang tak menganggapku ada,

hingga suatu hari Aku tersadar,

mungkin anggapanku bahwa semua orang itu sama yang 

membuatku merasa hampa,

namun Dirimu hadir merubah pandanganKu,

Aku terlahir kembali dengan prinsip baru,

Dirimu bagaikan cahaya yang penuntunku,

karenaMu Aku bukanlah seperti Aku yang dulu,

"terimakasih",

hanya ucapan terimakasih yang bisa kuberikan kepadamu.


Pekanbaru, 9 Mei 2017


Kak Ngun

Sabtu, 15 April 2017

BERSABARLAH HATI

BERSABARLAH HATI


Suatu Kenangan muncul ke permukaan,

Entah kapan kenangan itu terjadi,

Yang Ku ingat, saat itu Matahari pergi secara perlahan di ufuk barat ditemani dengan senja yang tampak menawan,

Tampak menawan tuk dipandang oleh mata,

Suasana sore itu terasa tenang, orang - orang tampak berlalu lalang menuju istananya masing – masing

Kaki pun melangkah menuju tempat peristirahatan yang biasa orang sebut rumah,

Engkau melintas di hadapanku, sapaan ringan dan senyuman pun tak dapat dihindari

Itulah pertama kali Kita bertemu,

Waktu terus berlalu tak seorang pun dapat menghentikannya,

“Entah kenapa Kita bisa sedekat ini” ungkap-Ku dalam hati,

Banyak rasa yang tak bisa Ku jelaskan

Seperti racun yang menyebar secara perlahan dan menyesakan dada,

“Apakah ini yang di sebut cinta, rindu, dan sebagainya?” pertanyaan itu terbesit dikepala Ku

Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama,

Ini bukan pertama kali Aku merasakannya,

Namun kali ini benar-benar berbeda,

Aku tersenyum saat memikirkan hal itu,

Namun Aku berusaha untuk tetap berpikir jernih,

Yang bisa Aku lakukan hanya berdoa kepada sang pemilik hati dan yang maha membolak balikan hati,

Jika benar perasaan ini suci Aku harap perasaan ini terjaga,

Jika benar perasaan ini tulus Aku harap hati ini tetap bersabar,

Sungguh tersiksa namun itulah fitrah manusia,

Aku harap perasaan, cinta, dan rindu ini tidak berlebihan,

Dan jangan sampai cinta ini melibihi cintaku kepada-Mu Ya Rabb.

Sekali lagi bersabarlah hati dan tetaplah tenang hingga waktunya tiba.


Pekanbaru, 9 April 2017




Kak Ngun

Minggu, 26 Februari 2017

Lebih Dari Sekedar Tulang Punggung (Ayah)

Lebih Dari Sekedar Tulang Punggung (Ayah)

Senja sudah di telan malam lelah tergambar jelas di wajahmu namun Engkau bergegas untuk melangkah pulang, engkau melangkah pulang dengan rasa kerinduan, melangkah pulang ke sebuah istana yang engkau bangun dengan jerih payah, air mata, dan pengorbanan, tapi bukan istana itu yang yang Engkau nantikan namun sambutan hangat penghuni istana itu. Ya… Aku termasuk salah satu penghuni istana itu, istana yang biasa orang sebut rumah, mungkin yang orang lain hanyalah rumah kecil yang sangat sederhana tampak rindang dengan tanaman tanaman menghiasi halaman rumah namun Engkau selalu menganggap ini lebih dari sekedar rumah. LangkahMu mulai terdengar, tubuh gagahMu mulai tampak dari kejauhan, Aku bergegas berlari ke halaman rumah tak sabar melihat senyumanmu yang tulus itu. Ayah pulang….. teriaku lantang memecah keheningan rumah, ya Dialah sang tulang punggung keluarga yang biasa kita sebut Ayah/Papa/Abi dan sebagainya. Ibu dan kedua Adiku langsung beranjak dari kesibukannya. Seperti biasa Ayah datang dengan senyuman yang agak memaksa, Aku tahu Ayah menyembunyikan kelelahannya namun Ayah tampak menikmati sambutan kami yang cukup sederhana, Ibu selalu menyiapkan segelas Teh Hangat untuk Ayah, Aku dan Adiku langsung berebut mencium tangan Ayah. Setelah mencium tangan Ayah, Aku mengambil tas Ayah dan menyimpannya di kamar kedua Adiku langsung duduk di samping kanan dan kiri Ayah di depan rumah dan ibuku tersenyum hangat melihat kebersamaan itu, Ayah selalu bertanya kegiatan kami di sekolah maupun dirumah, Aku dan Adiku pun antusias menceritakan pengalaman kami, setelah cukup puas bercerita biasa Ayah menyuruh Kami ber tiga masuk untuk belajar dan mempersiapkan kebutuhan yang akan di bawa untuk sekolah besok, setelah Kami masuk giliran Ayah dan Ibu berbincang bincang di depan rumah.

Setelah perbincangan selesai Ayah dan ibu pun masuk, Ibu langsung ke dapur mempersiapkan makan malam, dan Ayah menghampiri kami satu persatu menawarkan bantuan seperti mengerjakan tugas dan sebagainya. Entah kenapa Ayahku sangat ahli hampir di semua bidang. Ayah bekerja di salah satu perusahaan swasta dan bergelut dengan berbagai jenis mesin seperti mesnin CNC, hydrolik, dan sebagainya sesuai dengan keahliannya, itu sih sejalan dengan pendidikan Ayahku yang merupakan lulusan SMK Pembangunan yang terletak di daerah Semarang, SMK yang cukup terkenal di Indonesia pada masa itu dimana lulusannya sangat berkualitas, dengan bermodalkan hanya Ilmu mesin itulah Ayahku dapat menikmati pemandangan bunga Sakura di Jepang, dan ke beberapa Negara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Wow…… itulah yang muncul di benaku ketika Ayah menceritakan pengalamannya menjelajah ke beberapa Negara di Asia. Tak hanya itu Ayahku juga mengerti mengenai instalasi Listrik, jika ada masalah listrik di rumah Ayahlah yang akan memperbaikinya dengan sigap, belum lagi keahlian Ayah dalam bidang bangun membangun rumah yang Ayah dapat dari Almarhum Kakek, pagar depan rumah, halaman, renovasi kamar mandi dan ruang tengah rumahku bukanlah tukang namun Ayahku di bantu dengan ketiga pasukannya yaitu Aku dan kedua Adiku yang sebenarnya lebih banyak mengganggu dibanding membantu Aku tertawa sendiri jika mengingat momen itu. Namun belum sampai disitu Ayahku juga sangat pandai dibidang Matematika dimana saat Aku dan Adiku mulai kehabisan amunisi untuk menyelesaikan soal matematika seketika datang bala bantuan yang selalu berhasil menaklukan soal demi soal matematika Kami. Belum lagi keahlian Ayah di bidang seni, Ayah sangat mahir membuat prakarya, setiap ada tugas prakarya di sekolah rumahku selalu kedatangan tamu teman teman sekolahku untuk minta di bantu membuat prakarya dengan Ayahku. Wow Amazing,,,,,,, . Jika kalian bertanya siapakah inspirator diriku kalian tak perlu jauh jauh mencari jawabannya, siapa lagi kalau bukan Ayahaku.

Malam pun semakin larut ibuku menyuruh kami untuk bergegas tidur Ibuku tidur dengan Adiku yang paling kecil sedangkan Aku dan Adiku yang tertua tidur bersama Ayah, terkadang Ibu sempat ngomel ke Ayah karena Ayah sering kali tidur duluan dibanding Aku dan Adiku, ketika Ayah tidur duluan Kami berdua memanfaatkan kesempatan itu untuk bercerita dan bermain, Ya,,, kami paling susah kalau disuruh tidur tapi sekali sudah tidur hanya waktu dan suara Ibu yang dapat membangunkan Kami. Itulah kenangan 6 tahun lalu, sekarang Aku sedang duduk di bangku perkuliahan dan Aku sangat merindukan moment bersama Ayah. Jika orang lain bilang Ayah adalah tulang punggung keluarga, bagiku Ayah lebih dari sekedar tulang punggung melainkan malaikat penjaga yang luar biasa kuat mampu mendayung bahtera rumah tangga yang amat besar dan berat melewati ombak dan badai… Dan jika kalian bertanya siapa manusia terhebat di dunia ini tentu saja Aku dengan yakin menjawab “AYAHKU…”


“ibarat dalam peperangan tameng terkuat bukanlah tameng yang terbuat dari besi maupun baja, namun temang terkuat iyalah Ayah, bukan hanya melindungimu namun juga mengajarkanmu untuk menyerang balik – Kak Ngun”

Pekanbaru, 26 Februari 2017



Kak Ngun

Rabu, 15 Februari 2017

Maaf Jika Aku Tak seAsik Yang Dulu

Maaf Jika Aku Tak seAsik Yang Dulu


Maaf,,,,

Maaf jika Aku telah berubah,

Aku hanya ingin Kau tahu hidup ini merupakan perjalanan,

Perjalanan yang amat panjang, bukan hanya diam di tempat,

Jika memang Kau adalah sahabatku, Ku yakin Kau pasti mengerti,

Dulu Aku pernah berkata “Tegur Aku jika Aku berubah”

Tapi apakah Kau tahu apa yang Aku maksud?

Iya,,,, Aku memang sudah berubah tak seperti yang dulu,

Aku berubah berusaha untuk menjadi lebih baik,

Wahai sahabat,,,

Sejujurnya bukan Aku yang berubah,

Hanya saja dirimu yang selalu diam di tempat,

Sampai kapan Kau akan terus begitu?

Maaf,,,,

Maaf jika Aku tak sesempurna yang engkau bayangkan,

Maaf jika Kita tak lagi sejalan,

Marilah melangkah bersama wahai sahabat untuk tujuan yang lebih baik,

Kita bukanlah anak kecil lagi yang bermain tanpa beban di halaman rumah seperti dahulu,

Iya,,, Aku tak akan memaksamu sejalan denganku,

Ku yakin Kau tahu jalan mana yang seharusnya Kau tempuh,

Hidup ini pilihan, apa yang Kau pilih hari ini akan menentukan masa depan Mu di hari esok,,,

Sekali lagi Maaf,

Maaf jika Aku tak se Asik yang dulu,,,,


Pekanbaru, 15 Februari 2017




Kak Ngun

Rabu, 01 Februari 2017

Melangkah Pergi

Melangkah Pergi 

Anak Rantau,

Itulah yang orang bilang,

Itulah sebutan bagi Kami,

Bagi orang-orang yang pergi dari sangkarnya dengan berbagai tujuan,

Aku pergi bukan tanpa alasan,

Aku pergi dengan sejuta harapan,

Banyak mimpi-mimpi yang ingin Ku raih,

Banyak hal yang ingin Aku dapatkan dan pelajari,

Dari menimba ilmu, mengais rizki hingga memantaskan diri,

Langkah demi langkah Hari demi hari kujalani dengan kesabaran dan keikhlasan

Terpaan badai pun mulai berdatangan,

Terkadang terpaan yang sangat hebat menghantam diriku,

Hingga Aku terjatuh sejatuh jatuhnya,

Berat rasanya untuk bangkit,

Berat rasanya untuk kembali melangkah,

Namun seketika senyumanmu melintas di pikiranku,

Senyuman penyemangat dengan sejuta makna dan harapan,

Tahu kah dirimu, bahwa dirimulah salah satu motivasi terbesarku untuk dapat melangkah maju,

Engkau menyadarkanku bahwa aku pergi bukan untuk jatuh,

Aku pergi untuk kembali,

Kembali dengan segenggam prestasi,

Kembali dengan segenggam emas,

Kembali dengan kepantasan diri,

Apakah semudah itu?

Tentu saja tidak,

Sadarlah!!!! untuk meraih semua itu aka ada banyak pengorbanan,

Akan ada gunung terjal yang harus Kau daki dan lembah berduri yang harus Kau lewati,

Hanya niat, keyakinan, dan tekad sebagai bekal perjalanan,

Bismillahirahmannirahim Aku melangkah pergi,,,,,


Batam, 28 Januari 2017



Kak Ngun