Senin, 25 Desember 2017

Kagum

Kagum


Saat kita pertama kali berjumpa,

Saat kita pertama kali berkenalan,

Aku mulai kagum padamu,

Dirimu meiliki apa yang tidak dimiliki orang lain,

Dirimu menjaga pandanganmu dari setiap apa yang dilarang untuk dipandang,

Bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya,

Ayat-ayat Qur’an yang dirimu hafal,

Ilmu agama yang begitu luas,

Pakaian yang selalu menjaga kehormatanmu sebagai wanita muslim,

Tersirat dibenaku ingin aku mempersuntingmu,

Namun apakah diri ini pantas?

Semoga dirimu istiqomah dengan hijrahmu,

Pelan-pelan aku mengikuti jejak hijrahmu,

Untuk saat ini biarlah aku menjadi pengagummu,

Untuk saat ini biarlah namamu yang ku semogakan dalam doaku,

Wahai sang pemilik hati, jadikanlah hijrahku ini hijrah karena-MU, sehingga aku pantas bersamanya.


Pekanbaru, 25 Desember




Kak Ngun

Konsep Matematika dengan Sedekah

Ustad Yusuf Mansur bertutur bahwa dengan sedekah ini, kita bisa memperoleh ampunan Allah, menutup kesalahan serta keburukan serta bisa mendatangkan ridho Allah.
Intinya sederhana, barang siapa yang memberi maka dia akan dibalas oleh Alloh dengan berlipat-lipat. Karena Alloh SWT tidak pernah menyia-nyiakan hambanya telah mendekat kepada-Nya.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan,..” (QS. Ali ‘Imran : 195)

Berikut konsep “matematika“ sedekah yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansur:

1. Memberi 1 dibalas 10 

Misal kita memiliki Rp. 100.000, bila kita menyedekahkan sebagian dari uang tersebut maka perhitungannya matematika yang normal sebagai berikut:

100.000 – 10.000 = 90.000

Akan tetapi dengan konsep sedekah, matematikanya menjadi:

100.000 – 10.000   = 190.000
100.000 – 30.000   = 370.000
100.000 – 50.000   = 550.000
100.000 – 70.000   = 730.000
100.000 – 90.000   = 910.000
100.000 – 100.000 = 1.000.000

Kok bisa? Ya memang bisa, karena tiap-tiap uang yang kita sedekahkan akan dibalas 10x lipat dari nominal yang kita sedekahkan.

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”
(QS. Al An’aam : 160)

2. Memberi 1 dibalas 700

Misal kita memiliki Rp. 100.000, bila kita menyedekahkan sebagian dari uang tersebut maka perhitungan dengan konsep matematika sedekah sebagai berikut:

100.000 – 10.000   = 7.090.000
100.000 – 30.000   = 21.070.000
100.000 – 50.000   = 35.050.000
100.000 – 70.000   = 49.030.000
100.000 – 90.000   = 63.010.000
100.000 – 100.000 = 70.000.000

Sunggu luar biasa bukan. Ini bukan asal bicara, tapi Alloh yang sudah menjanjikan lewat firman-Nya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” 
(QS. Al An’aam : 160)

Masih kurang janji Alloh? Ini yang lebih dahsyat

3. Memberi 1 Dibalas Tak Hingga 

Alloh SWT pemilik jagad raya ini, Alloh Maha Kuasa, Alloh Raja segala raja, dan Alloh Maha Pengasih dan Penyayang,

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”
(QS. Al Faathir: 13)

Semua yang Alloh kehendaki pasti terjadi, “Kun Fayakun”, “Jadilah maka jadilah”. Alloh saja sanggup menundukkan siang menjadi malam, mengubah malam menjadi siang, menghidup dan mematikan seseorang, apalagi Cuma untuk menyembuhkan penyakit, melunaskan hutang, meyelesaikan masalah, itu kecil bagi Alloh SWT.


Minggu, 22 Oktober 2017

Si PEGGORES TINTA HITAM



Si PEGGORES TINTA HITAM

Akulah si penggores tinta hitam

Sebuah surat merah jambu aku siapkan lengkap denga pena hitam yang siap menari diatas kertas.

Taukah engkau, surat ini kutulis dengan segenap keberanianku,

Kutulis kata demi kata, kalimat demi kalimat

Betapa aku mengagumimu,

Kutuangkan semua kekagumanku padamu,

Setiap tetes tinta yang keluar selalu ada dirimu membayang dipikiranku,

Taukah enggkau bahwa disetiap goresan tinta ini merupakan isi dari hatiKu,

Benar, Aku mengagumimu dalam diamKu,

Senyumanmu menghilangkan keluhku.

Ingin Aku menyapa mu,

Mengenal lebih dekat tentangmu

Namun keberanianku menciut saat melihat wajahmu,

Terbesit sebuah pertanyaan,

Apakah engkau juga mengagumiku seandainya engkau mengenalku? Atau dirimu mengagumi orang lain?

Aku belum siap mendengar jawaban dari setiap pertanyaan itu,

Aku takut jawaban yang kudengar bukanlah jawaban yang Aku inginkan,

Cukuplah Aku mengagumimu dari jauh,

Cukuplah Aku mengagumimu dalam diamku,

Aku adalah si penggores tinta hitam, dan Aku adalah pengagum rahasiamu



Pekanbaru, 21 Oktober 2017


Kak Ngun

Selasa, 17 Oktober 2017

Bersabarlah Kasih

BERSABARLAH KASIH

Bersabarlah kasih,

Ku tahu rindumu amat mendalam,

Aku juga merasakan hal yang sama,

Bahkan lebih dalam dibanding samudra terdalam dimuka bumi ini,

Rindu bukanlah hal yang baru untuk Ku,

Rindulah yang selalu menjadi sahabatku disaat jauh darimu,

Rindu-lah merupakan musuh sekaligus motivasi Ku,

Karena rindu Aku merasakan betapa berartinya dirimu,

Waktu-waktu yang kuhabiskan bersamamu sangatlah berharga untuku,

Namun rindu juga yang menyesakan dadaku,

Ku ingin menghabiskan masa tua ku bersamamu,

Namun lagi lagi kita tidak tahu apakah nanti kita bisa saling bertemu,

Maaf jika Aku terlalu egois terhadap perasaanku kepadamu,

Tidak ada yang bisa menjamin kita akan bersatu,

Atau bahkan ajal yang dahulu menjemput,

Teruslah berusaha, berharap, dan berdoa kepada Sang Pemilik Hati,

Dialah kunci dari setiap orang yang saling menemukan,

Ku harap Aku bisa menemukanmu diujung dermaga penantian.



Pekanbaru, 17 Oktober 2017




Kak Ngun

Kamis, 31 Agustus 2017

Daging Yang Tak Dirindukan

Daging Yang Tak Dirindukan

Kau tau malam apa ini?

Ya malam ini malam takbir atau lebih tepatnya tanggal 9 Dzuil-Hijjah 1438 H

Seperti tahun sebelumnya, Aku merayakan Idul Adha di tanah rantau

Aku tinggal di asrama salah satu kampus di Kota Pekanbaru

Malam ini asramah sangat hening

Kau tahu kenapa?

Ya semua kembali ke kampong halamannya untuk 
merayakan hari Raya Idul Adha dirumah

Bukankah begitu menyenangkan ketika kita bersama keluarga kita di malam yang istimewa ini

Namun tak semua bisa kembali kerumah

Aku dan beberapa anak asrama yang lain tetap tinggal di asramah

Bukannya kami tak rindu kampong halaman

Tapi kami punya alasan,

Meskipun kendala terbesar kami masalah keuangan

Kami bisa saja pulang, namun belum tentu bisa kembali lagi

Ketika orang lain rindu akan daging qurban

Kami hanya rindu keluarga kami.


Pekanbaru, 9 Dzul-Hijjah 1438 H



Kak Ngun

Kamis, 17 Agustus 2017

Hujan dan Jatuh Cinta

Hujan dan Jatuh Cinta


Kau tahu apa yang Aku suka dari hujan?

Ia pantang menyerah,

Ia terus datang walaupun jatuh ribuan kali,

Ia seperti tak mengenal rasa sakit,

Ia tak bisa memilih dimana Ia akan jatuh,

Di sungai, di danau, di pohon, bahkan di tumpukan sampah,

Apa Ia mengeluh?

Tentu saja tidak, Ia akan terus datang,

Ia yakin dimanapun Tuhan memerintahkannya untuk jatuh, disitulah Ia akan jatuh,

Karena Ia yakin dimanapun Ia jatuh, akan ada manfaat, cobaan dan hikmah disetiap tetesnya,

Yang akan memberikan pelajaran kepada umat manusia,

Jika Ia tidak dijaga dan dihargai Ia akan membawa bencana

Tetapi jika ia dimanfaatkan ia akan membawa sejuta manfaat

Begitu juga dengan jatuh cinta,

Kadang kita tak bisa memilih kemana cinta ini akan jatuh,

Bahkan tanpa disadari cinta jatuh begitu saja tanpa alasan yang jelas,

Seolah olah semua terjadi begitu saja,

Cinta tak butuh alasan untuk jatuh,

Layaknya hujan, jatuh cinta mengandung manfaat, cobaan dan hikmah,

Jika ia jatuh dan kita salah menanggapinya cinta akan membawa kegelisahan, kecemasan bahkan kemaksiatan,

Namun jika kita menjaganya dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta yakinlah semua akan indah pada waktunya

Jika Kau bertanya apakah kita harus melepaskannya atau memperjuangkan?

Mengapa kita tidak melakukan keduanya,

“Melepaskannya dalam doa dan meperjuangkanya lewat tindakan demi meraih yang terbaik”


Kak Ngun



Batam, 17 Januari 2017

Senin, 10 Juli 2017

Terbang Bebas

Terbang Bebas

Siang ini Aku bersiap untuk terbang

Kumegarkan sayap sayapKu

Kukibaskan sayap sayapKu untuk terbang

Aku terbang mengarungi langit.

Kulihat hamparan awan seoalah olah menari ditemani cahaya mentari

Kurasakan terpaan angin yang menghantam raga ini sungguh nyaman untuk dinikmati

Kunikmati kicauan burung yang menyapaKu di langit

Tak ingin Kumendarat,

Aku ingin terbang dan terus terbang

Menembus batas langit

Tanpa halangan dan rintangan

Takan ada yang akan menggangguKu

Selamat tinggal daratan

Selamat tinggal lautan

Langit telah menyambutku

Dan langit akan menjadi rumahKu

Aku hidup untuk terbang bebas


Batam, 10 Juli 2017


Kak Ngun